Asus E202 : Yang Memanja, Yang Memesona

LOMBA-BLOG-ASUS-E202

Apakah yang pertama kali membayang di benakmu, kala tanpa diduga-duga, seseorang memberimu sebuah piranti ajaib bernama notebook Asus E202? Ah, tentu saja, aku tak hendak mengajakmu berandai-andai kosong di siang bolong ini. Mungkin bagimu tak ada gunanya. Tapi, yakinlah, jika ada sebuah benda istimewa terdeteksi inderamu, sedikit banyak akan membuatmu melayangkan pandang sejenak, lalu membayangkan bakal memilikinya.

Notebook Asus E202 ini memang sempurna. Bukan hanya karena memang lahir di sebuah era milenia yang mana teknologi sudah melaju sedimikian rupa, tapi karena memang hal yang ditawarkan darinya adalah segala apa yang diingini manusia. Yang pertama, notebook berukuran A4 ini menggunakan prosesor intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam. Maka, jika kau seorang penulis, atau designer, atau layouter, notebook Asus E202 ini adalah pilihan jitu yang tak bakal membuat kecewa. Sebab kau bisa saja membawanya ke taman sunyi, tempat kau menyerap inspirasi dengan melimpah, tanpa perlu mengkhawatirkan sumber listrik yang mungkin tiada. Delapan jam adalah waktu yang lama, durasi waktu antara pagi hingga senja.
Continue reading

Pentas Seni Parade Kamera

“abi nanti nunggu di dalam. Nggak papa. Boleh.”, demikian kata sulung saya seolah memohon, pagi itu kala kami berdua melangkah menuju GOR tempat acara pentas seni diadakan. Hari itu hari sabtu, dengan tanggal yang sesuai dengan yg tercantum di undangan pentas seni PAUD tempat anak saya belajar.

“iya” jawab saya menimpali dengan intonasi yg saya samakan dengan nada bicaranya “memang hari ini abi ikut. Hari ini kan pentas seni, nanti abi lihat mas Birru tampil di panggung”

“yeee”, serunya. Wajahnya sumringah..erat menggandeng saya menuju gedung.

Ya, saya tahu, mungkin ia mengira hari ini akan sama saja dengan 3 harian yg lalu, kala ia melaksanakan gladi kotor dan juga gladi resik, yg, karena hari efektif, saya tentu saja tak bisa mengantarnya. Saat itu, yang saya minta mengantarnya, memang hanya antar jemput saja dan tak menemaninya berlatih.
Continue reading

Abi, Birru Aja

“Abi, jangan! Birru aja”

Itu adalah perkataan batita saya yang ia ulangi berkali-kali pada waktu itu. Lokasi kejadiannya di kolam renang Bintang sintuk ketika kami sedang renang bersama. Ceritanya, saya mencoba memegangi dia selama kami renang bersama tersebut. Alasannya sangat orang tua sekali: meski ia memakai pelampung lengan yang memastikan ia bakal mengapung, tentu saja saya masih tetap khawatir sekali tempo ia tak seimbang hingga kepalanya tercelup air kolam renang.

Birru, batita saya itu, sejak kecil memang terkesan berani. Ketika baru bisa berdiri dengan berpegangan meja atau kursi, sering kali kami dapati ia melepaskan pegangannya itu seenaknya sendiri, hingga kami yang harus sigap memeganginya lagi. Dan masalah renang tadi, itu bermula ketika saya membelikannya pelampung lengan ketika saya ada perjalanan dinas kantor. Walaupun fasilitas kolam renang telah disediakan perusahaan dan gratis, saya termasuk jarang mengajak Birru untuk berenang. Kapan terakhir kalinya, bahkan saya sudah lupa…sudah sangat lama. Maka mumpung ada pelampung baru, mumpung saya sedang semangat-semangatnya, mumpung Birru sepertinya selalu kelebihan energy dan perlu penyaluran yang lebih baik, saya ajaklah dia untuk berenang pagi itu.

Continue reading

Dari Tokyo Jalan Lain Menuju Rotterdam

Dalam hidup manusia, memang ada orang-orang yg ditakdirkan untuk datang sekelebat, mengajarkan sesuatu, lalu lenyap sama sekali ….
–Titik nol, Agustinus Wibowo–

Apakah yang bisa dilakukan sembari menunggu? Tak ada. Seperti saat itu, saya memilih berdiri saja di depan jalur dimana subway yang akan saya naiki berhenti. Memperbaiki tampilan jaket agar lebih erat menutup badan, memasukkan kedua tangan dalam saku celana, lalu sekedar memandang suasana stasiun yang tergolong sepi. Toh jadwal kedatangan sebentar lagi, tak butuh waktu lama untuk menunggu. Jika kosakata menunggu terlalu membosankan, maka bolehlah menyebut apa yang saya lakukan saat itu dengan menanti.

Memasuki hari-hari akhir keberadaan kami di Jepang, saya mulai didera rindu. Rindu akan masakan Indonesia mungkin hanya memanggil-manggil kala lapar mulai terasa, tapi rindu akan kehangatan keluarga, genggaman istri, juga tawa polos si kecil adalah sejenis rindu yang bisa datang kapan saja, yang sayangnya, tak cukup dipadamkan hanya dengan memandang foto atau ngobrol via skype. Ia baru bisa selesai, dengan satu kata yang tak memungkinkan untuk bisa dilakukan saat ini: bertemu. Maka weekend terakhir di Jepang ini, sebenarnya saya sudah malas kemana-mana. Sungguh berkebalikan dengan semangatnya saya ketika pertama kali datang, sekitar 5 minggu yang lalu, yang begitu antusiasnya bersama teman-teman mengunjungi ikon-ikon Jepang yang berada di sekitaran Tokyo. Tapi kemudian, untuk sebuah alasan yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari lah rasa malas itu kalah juga: mengunjungi masjid cami’ Tokyo.
Continue reading

Dicari, Sebuah Taman Kota

Saya ini anak kampung. Anak kampung kebanyakan yang main-main di kali, berkejaran di halaman rumah-rumah yang luas, juga bermain di sawah. Rumah masih banyak yang terbuat dari bamboo, halaman luas, jalanan pun belum beraspal. Seingat saya, waktu itu hanya sebiji rumah saja yang tingkat dua, yang sering kami decakkagumi dengan logika bocah yang sederhana.

Saya ini anak kampung. Anak kampung yang hidup di jaman tv belum menggurita. Maka adalah hal yang luar biasa jika ada anak tahan berdiam diri di rumah. Teman-temannya akan memanggil untuk mengajak main bentengan, atau pistol-pistolan, atau pekthor–sebuah permainan menggunakan batu seukuran dua kepalan tangan dengan aturan tertentu. Tentu saja itu mudah terlaksana, sebab medan bermain begitu membentangnya.

Saya ini anak kampung. Anak kampung yang mesti tak punya lapangan futsal, ada sawah yang baru dibabat padinya dan siap untuk dijadikan bermain bola. Tak ada juga taman bunga, tapi…hei, rerumput liar dan hujaunya persawahan adalah taman alam yang tiada tandingannya.

Tapi ternyata,kawan, itu ternyata dulu…
Continue reading

Membangun Indonesia Adalah Membaangun Manusia Indonesia

Bertahun-tahun yang lalu, pernah suatu ketika dosen pengajar saya menyindir begini, ‘mana tempat sampahnya? tempat sampahnya adalah semua yang ada di sini”. Saya tidak bernar-benar ingat, apakah motif yang melatari pernyataan itu, apakah melihat tempat sampah yang tidak cukup banyak tersedia, ataukah justru lebih parah lagi: menyaksikant sampah begitu banyaknya berserakan dimanamana sehingga seolah semuanya adalah tempat sampah. Entahlah!

Tak berbeda jauh dengan pendapat dosen saya itu,saya pernah berada dalam posisi itu. Dalam posisi menyesalkan tempat sampah yang tidak cukup banyak tersedia di mana-mana. Suatu kali, ketika melihat sepanjang jalan yang kotor oleh bungkus makanan, saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa tidak diletakkan saja satu buah tempat sampah di sini sehingga orang yang kebetulan jalan di sini dan memakan sesuatu dapat membuang bungkusnya di tempat sampah tersebut. Jadi, tak perlu lagi lah kita lihat sampah berserakan di jalan sebab sudah ada penampungnya.

Pemikiran itu cukup lama bersarang dalam benak saya sampai sekitaran enam bulan yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Jepang dalam waktu yang cukup lama. Saya, juga teman-teman, dibuat heran ketika di negeri yang terkenal akan kerapihan, ketertiban, dan kebersihannya itu, sungguh sulit untuk menemukan sebuah tempat sampah di tempat-tempat yang dulu, sewaktu di Indonesia, harusnya ada tempat sampah.
Continue reading

taat saja tak cukup

“Bapak mungkin telah berhitung, tapi apakah Bapak bisa menjamin, kalau orang lain juga berhitung seperti Bapak”

 

Sampai sejauh itu semuanya memang dalam keadaan baik-baik saja. Tak ada serempetan, tak  ada kejadian rem mendadak yang menakutkan, tak juga ada sempritan dari pengatur lalu lintas. Tapi tentu saja, keadaan yang baik-baik, yang merepresentasikan keadaan kekinian, tidak menunjukkan bahwa segala yang menuju kekinian itu, juga baik-baik saja.

            Jika diperhatikan, dengan segala apa yang terjadi, maka orang yang memenuhi syarat untuk menyuarakan protes pertama kali sebenarnya adalah saya. Dengan tempat duduk di depan, persis berdampingan dengan pengemudi, dengan jarak pandang yang lebih luas terhadap keadaan di depan, saya lah sebenarnya yang semestinya pertama kali bersuara. Sebenarnya, sejak pertama kali melaju meninggalkan Bontang, saya sudah mencium gelagat tak menyenangkan terhadap cara pengemudi travel ini dalam membawa kendaraannya. Caranya menaikkan kecepatan, caranya mengerem, juga tekniknya menyalip sudah cukup membuat saya memperoleh kesimpulan bahwa ini adalah sopir ugal-ugalan. Tapi saya diam. Diam karena diam-diam saya ikut ’menikmati’ keugal-ugalannya, diam karena saya butuh untuk sampai di balikpapan dengan cepat, juga diam karena saya sedang dalam posisi malas untuk menegur, terlebih saya hanyalah satu dari bagian penumpang.

            Maka ketika ibu-ibu yang duduk di bangku tengah menyuarakan protes di pertengahan jalan, saya lagi-lagi diam. Diam sembari menikmati dialog dua kepentingan dengan dua sudut pandang. Sebuah peluang untuk edukasi masyarakat telah direbut oleh si ibu dan saya hanya memilih  untuk menjadi pendengar yang sama sekali tak meningkahi percakapan.

            ”saya sudah berhitung kok, bu”, demikian salah satu sanggahan si pengemudi merujuk kepada kapan dia nge-gas, kapan dia mesti mengerem.

            Tapi si ibu memang dikarunia kelebihan sebagai pendidik sejati dengan kalimat inspiratif yang tak jua kering dari lisannya: “Bapak mungkin telah berhitung, tapi apakah Bapak bisa menjamin, kalau orang lain juga berhitung seperti Bapak”

            Tentu saja tidak. Bapak ini tengah berhitung untuk kepentingan kendaraan kami saja, bukan kendaraan lain. Maka dasar perhitungannya adalah ini: kendaraan lain akan melaju dengan laju dan cara yang standar, tinggal saya memvariabelkan cara berkendara saya agar diperoleh hasil yang tetap baik-baik saja. Tentu saja ini pemikiran yang egois dan sakenake udele dewe: semuanya harus baik-baik saja agar saya bisa tidak baik-baik dengan hasil tetap baik-baik.

            Lalu, apakah dengan kita bertindak baik-baik maka semua akan menjadi baik-baik saja? Tentu saja jawabnya tidak. Sebab, kita toh hanya satu dari bagian orang banyak, hanya satu variabel pembentuk hasil. Tapi penjelasan baiknya agaknya kias dengan pernyataan ini: ‘bukankah yang sholat saja belum tentu masuk surga, apalagi yang tidak sholat”

 

            Tapi kemudian, berbulan-bulan setelah kejadian itu, penjelasan baik untuk hal ini kembali datang di ramadhan ini. Sore hari menjelang waktu berbuka ketika saya masih di jalan berkendara motor. Waktu menjalang berbuka, seperti diketahui bersama, adalah waktu ketika jalanan penuh dengan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi demi momen berbuka bersama keluarga. Terkecuali, salah satunya, saya kali itu. Normalnya, ketika sudah sampai di depan Bontang plaza, saya akan bergerak ke sisi kanan dan segera belok kanan menuju kompleks perumahan ketika lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau. Tapi kali itu lain, saya masih asyik mengendarai motor di sisi kiri pelan-pelan sambil mengamati toko di sepanjang jalan. Saya memang tengah mencari penjual gas setelah gas panggilan langganan sudah tidak bisa dipanggil lagi sebab terlalu sore. Rencananya, saya akan terus saja, tidak ikutan menunggu lampu merah untuk berbelok, dengan harapan saya akan menemukan penjual gas di toko selanjutnya.

            Dan kejadian itu pun terjadi. Mulanya suara teriakan perempuan, juga derit ban beradu dengan aspal, hingga saya menoleh. Dan saat itu lah, saat saya tepat menoleh, sebuah angkot tengah menghantam motor yang tengah berhenti menunggu lampu merah. Tidak, saya tidak sedang membahas tentang kemungkinan saya juga lah yang bakal menjadi korban kecelekaan itu jika saat itu tidak memutuskan untuk terus saja. Saya hanya ingin menyampaikan ini: bukankah pengendara motor itu sudah bertindak baik dengan berhenti menunggu lampu merah sempurna usai? Ya, bukankah pengendara motor itu telah menaati peraturan dengan berhenti ketika lampu merah menyala, tetapi mengapa ia masih saja ditabarak juga. Bukankah ia tak ugal-ugalan? Bukankah ia tak menerobos lampu merah? Bukankah….

Kawan, sebab ternyata, taat saja memang tak cukup. Sebab kita tak sendiri, sebab di jalan raya kita pun juga bukan satu-satunya pengendara. Maka taat saja  bukanlah sebuah jaminan bahwa kita akan memperoleh hasil setaat tindakan kita. Ada pengendara lain, sopir angkot, pejalan kaki, tukang becak, penarik bajaj, serta masyarakat jalan lain yang turut andil menciptakan kebaikan di jalan.  Pengendara motor itu memang  taat untuk berhenti di lampu merah, tapi ada angkot yang ’kurang taat’ melaju kencang di jalanan yang penuh dengan pertokoaan. Juga ada pengendara motor lain yang tak taat yang seenaknya sendiri menyilang jalan. Jadi lah si angkot banting setir, jadi lah si taat yang jadi korbannya.

Menjadi taat memang penting, tapi menjadikan orang lain juga taat adalah agenda lanjutan yang mesti kita perjuangkan. Kita tak mungkin akan menikmati ketertiban di jalan dengan kita sendiri saja yang taat terhadap peraturan berkendara sementara yang lain abai akan hal itu. Sebab jalan yang kita lalui adalah jalanan bersama yang tentu saja bersama yang lain pula kita pergunakan. Di lain hal, kita juga tak mungkin memperoleh suasana perkampungan yang teduh menyenangkan hanya bermodal kita saja penghuni yang taat. Serta yang lain. Serta yang lain.

Agenda ini, agenda menjadikan diri seorang pribadi yang taat dan dilanjutkan mentaatkan orang lain, adalah agenda kenabian yang seyogyanya menjadi agenda pribadi masing-masing dari kita. Maka hanya dengan itulah, kehidupan yang lebih baik akan kita gapai.